Negeri penuh intrik
”Dan Allah telah membuat suatu perumpa-maan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tentram, rizqinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala tempat akan tetapi penduduknya mengingkari akan nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat”. (QS. An-Nahl: 112).
Keterbelakangan sempurna fakta kebusukan negara. Menghina para kritisi,membungkan dan meredam daya kritis yang sering di lakukan elit menjadikan rakyat menilai mereka yang kritis lebih parah dari pada penari erotis. Ketika agama hanya menjadi pasar dimana setiap isu di jadikan bahan untuk melontarkan kekurangan sehingga memfitnah agama diatas ambisi tahta dan siapa yang berkuasa, siapa yang menjilat dan siapa pula yang menjadi sampah. Ingatlah, semangat Tjoet Nyak Dien hingga suara lantang perang pangeran di Ponegoro dan para pahlawan yang telah tersungkur, tersirat darah pedang dan air mata di negeri ini.
Peristiwa semanggi 98, Ketamakan Aburizal Bakrie sehingga banjir lumpur di sidoarjo, Konspirasi penangkapan Rizieq hingga menumbuh kembangkan Ahmadiyah sampai lemot response penghuni istana membuat negeri ini subur dengan bencana. Ambon, Poso, Aceh dan Timor leste hingga Papua adalah segelintir konflik elite yang tak pernah terkuak yang terlindung oleh badan-badan hukum yang tak pernah dihukum. Biarlah waktu menjadi guru hingga hidayah terbaca oleh kita. Indonesia, negeriku yang terus dibungkam oleh sejarah kegelapan. Langkah picik penangkapan ketua KPK merupakan sebuah langkah kecil dari politisi yang memakan uang rakyat untuk sebuah pengkhianatan yang bakal terpampang dalam sejarah negeri ini bahkan skandal ini 1000 kali lebih busuk dari demokrasi Amerika. Kita tak pernah tahu siapa sebenarnya yang patriotis dan pecundang, perbedaan mereka jauh tapi begitu tipis ketika media menjadi institusi dan translator yang tak beradab.
Recent Comments